Posted in DIY, Home Sweet Home, Kids

Silhouette Photo Wall Art

Masih dalam rangka merangkai ide dan tema untuk rumah yang baru banget jadi. Saya sangat ingin sekali ngedandanin kamar anak lelaki saya biar jadi keren!

Detail-detailnya masih dalam penggodokan, sepertinya saya akan memenuhi kamarnya dengan DIY project ala-ala  saya 😛 *semoga anak saya malah ga kabur ke kamar temennya ya

Saya berpikir untuk membuat salah satu wall art untuk merekam masa kecilnya, tapi ga pasaran. Salah satu idenya adalah bikin foto siluet sederhana (silhouette photo) dengan figur wajahnya untuk digantung di dinding kamarnya.

Saya bukan ahli siluet, sama sekali. Tapi ternyata bikin siluet foto kaya gini ga membutuhkan effort yang gede kok 😀 surprisingly! Cobain yuk.

Butuh apa?

Saya hanya butuh barang-barang seperti di bawah ini:

img_1098
Silhouette photo preparations
  1. Lem kertas
  2. Gunting kertas
  3. Cat poster warna hitam
  4. Kuas
  5. Foto yang diprint di kertas, skala 65% dalam ukuran kertas A4 agar ukurannya pas untuk dipasang di frame ukuran A4
  6. Kertas karton/art paper putih polos, sebagai alas untuk menempel foto siluet
  7. Pigura/frame foto

Caranya:

  1. Print foto pada kertas biasa ukuran A4 dengan skala 65%, cukup menggunakan printer biasa, yang menampakkan wajah menghadap samping sempurna, untuk menangkap setiap detail lekukan yang akan ditampilkan dalam siluet
  2. Gunting setiap detail lekukannya agar siluet terlihat tegas

    img_1099
    Gunting foto dengan hati-hati agar seluruh detail lekukan dapat terbentuk
  3. Tempel sedikit foto yang telah digunting pada alas (apapun), tempel asal saja,  hanya biar ga geser-geser saat pengecatan foto
  4. Siapkan cat poster (tidak disarankan untuk mencampurnya dengan air karena akan merusak kertas), siluet biasanya warna hitam pekat
  5. Sapukan cat ke seluruh permukaan foto hingga tertutup sempurna, tunggu hingga kering
  6. Tempel potongan foto yang telah dicat di atas art paper putih
  7. Pasang pada frame berwarna putih agar warnanya kontras 😉

tadaaaaaa……….!

img_1066
simple silhouette photo – my kid

Lumayanlah ya….buat artisan amatir macam saya hahahaha…… 😀

Posted in Home Sweet Home, IKEA, Review

Pingin punya kitchen set!

Apabila berbicara tentang ekonomis, naluri saya sebagai ibu-ibu mungkin bisa dibanggakan…*ceileh..

Entah ini bisa kadi keuntungan atau malah lebay. Misalnya begini:

Untuk membeli sebuah pot bunga saja, saya bisa mereview beberapa toko, membandingkan antara toko online dan toko offline. Perbandingan ongkos kirim pada toko online dengan ongkos dan tenaga dibanding pergi ke toko offline. Saya pribadi memang jadi lebih senang berbelanja online karena menghemat waktu dan tenaga, dan memungkinkan saya untuk lebih leluasa mereview bahan-bahan pertimbangan terkait harga, kualitas, model, dsb. Pun, apabila memang lebih menguntungkan beli di toko online, saya akan mereview lagi kurir servis mana yang paling baik pelayanan dan harganya. Hihi….jadi, untuk membeli satu pot bunga saja, saya bisa memikirkannya hingga 3-5 hari.

Sekarang ini, saya mereview beberapa barang yang menjadi kebutuhan dan mengharuskan saya untuk membeli. Diantaranya adalah: lemari dapur (kitchen set), beberapa buah rak besi untuk penyimpanan di gudang, keramik lantai untuk dapur, meja console dan bracket tv.

Salah satu yang sedang saya godok adalah pembelian kitchen set. Seperti yang semua orang tau, kalau mau punya kitchen set itu mind setnya adalah: sedia uang yang banyaak. Info yang telah saya kumpulkan, menurut saya pilihannya ada dua:

Beli yang jadi kaya gini:

screen-shot-2017-02-24-at-1-10-36-pm
a. kitchen set – ready to use

atau yang kaya gini:

screen-shot-2017-02-24-at-1-11-00-pm
b. kitchen set – made by order

Di sini saya jelaskan bedanya.

a. Kitchen set – ready to use products. Type yang bisa diambil dalam keadaaan kepepet (budget, tempat, waktu). Ini adalah produk kitchen set yang sudah jadi. Mereknya seperti Graver, Olympic, Ikea, dsb. Material yang umumnya dipakai type ini adalah particle board, yaitu jenis kayu bukan solid (produk kayu yang terbuat dari serbuk yang dipadatkan dengan bahan kimia). Harganya adalah per satu lemari. Ketahanannya jelas tidak akan sekuat kayu solid (kayu utuh dari pohon) ataupun plywood (produk kayu yang tersusun dari beberapa lapis kayu yang dimampatkan dengan proses perekatan tekanan tinggi), karena particle board apalagi yang kualitasnya tidak baik, tidak tahan lembab. Sedangkan, aktifitas dapur erat kaitannya dengan air.

b. Kitchen set – made by order. Kalau suka lihat ada sebuah toko dengan kaca lebar dengan interior hanya ada kitchen set dan lemari tv di dalamnya, nah inilah tempat dimana kita dapat memesan pembuatan kitchen set. Harga dari pembuatan kitchen set tersebut adalah per-meter2, berkisar Rp 1,200,000 – Rp 2,000,000. Biasanya, material kayunya adalah MDF, yaitu hampir sejenis particle board, jenis produk kayu bukan solid yang juga dibuat dari serpihan dan serbuk kayu yang dipadatkan dengan bahan kimia tertentu. Dari sisi kualitas, MDF diklaim lebih baik daripada particle board karena mempunyai kepadatan 700-800kg/m3 dibanding particle board yang hanya mempunyai kepadatan berkisar 650-700kg/m3. Produk ini dibuat costumized, model suka-suka si pemesan dan bisa disesuaikan dengan kondisi dapur. Untuk itu, sebelum pembuatan akan dilakukan survey, pengukuran, pemilihan material dan kemudian kalkulasi harga. Yang saya denger-denger sih, bikin kitchen set model gini.. yaaa…minimal 15juta-20 juta lah….wedew……hihi..

Nah….beberapa hari belakangan, saya dapet pemikiran untuk mempelajari produk kitchen set dari Ikea (bukan promosi loh). Ikea adalah peritel perabot rumah tangga dari Swedia. Modelnya lucu-lucuu dan inovatif semua. Kalau berbicara harga, ya pinter-pinter aja membandingkan. Ikea punya sebuah aplikasi yang dapat diunduh smartphone, gunanya sebenarnya adalah sebagai tools kita mengumpulkan list barang sebelum belanja langsung ke tokonya, karena sistem toko ini adalah belanja mandiri. Kita disajikan display penataan ruang langsung dalam bentuk sebenarnya, dan kita dapat mengecek nomor seri rak-rak dari setiap barang yang ada dalam display tersebut, yang kemudian bisa kita cari sendiri di marketplace di toko tersebut.

Saya memanfaatkan aplikasi Ikea untuk membandingkan harga antara produk satu dengan lainnya. Dalam aplikasi itu memungkinkan kita untuk mengubah dan mengatur type, ukuran dan warna untuk satu item barang. Dan ternyata, untuk item-item tertentu turut mempengaruhi harganya. Saya kasih contohnya ya:

img_1093
a. IKEA METOD – Base cabinet for sink
img_1092
b. IKEA METOD – Base cabinet for sink

Dua gambar di atas adalah produk kabinet dapur bawah, tanpa worktop/daun meja, digunakan untuk lemari yang atasnya buat sink/bak pencuci piring. (Ikea menjual daun meja dalam etalase tersendiri dengan harga yang variatif). Keduanya bisa kita dapati dalam etalase yang sama.

Nah, walaupun keduanya adalah item yang sama, namun harganya berbeda jauh ya. Letak bedanya ada pada pilihan ‘Frame Colour” dan “Front“. Apabila diklik, akan ada banyak pilihan Frame dan Front yang juga berpengaruh pada harganya.

Dari sekian banyak pilihan tersebut, saya sudah pelajari. Dan dari situ saya tau harga paaaaling murah untuk produk kitchen set Ikea adalah apabila kita memilih typeFront” dengan pilihan Hägebby White.

Memang, pertimbangan dan kalkulasi yang saya lakukan di atas adalah item yang bisa dipilih APABILA ‘ingin punya kitchen set yang modelnya cakep, materialnya bagus, punya garansi hingga 25 tahun, dengan harga murah, dan ga peduli dengan pilihan warna – putih atau hitam saja pilihannya.’

Ya…namanya juga mau ekonomis tapi bagus…pilihannya tentu ga sebanyak kalo punya duit banyak ya…hihi :D.

Posted in Home Sweet Home

Our Hopes…Our Home

Sejak dulu, saya bahkan ga berani untuk berandai-andai bisa punya rumah sendiri. Alasannya klise, saya berpikir sepertinya segmen status sosial seperti saya yang serba sederhana pas-pasan  ga bakal kebagian punya rumah apalagi di Jakarta.

Sejak kelas 1 SMA, saya terpaksa tinggal terpisah dengan orang tua yang harus pindah ke luar kota. Saya bertahan di lingkungan masa kecil saya untuk meneruskan sekolah, menolak pindah. Sejak itu juga saya terbiasa hidup dalam kamar kecil bernama kost-kost-an. Hingga menikah dan punya anak, saya memilih kost sebagai rumah yang ‘cukup’ untuk tempat bernaung keluarga kecil saya.

Tapi…tiba-tiba aja….ada semangat yang bikin saya mencoba untuk cari-cari informasi gimana caranya punya rumah, semangatnya sederhana:

Saya pingin punya dapur sendiri! hihi..

Selama ini, saya hanya masak di dalam kamar, mengandalkan jendela dan lubang angin sebagai penyalur perginya asap masakan saya….pengap!

Singkat cerita….ternyata Allah kasih rejeki yang sangat luar biasa. Saya bisa punya kredit rumah! di pinggiran Jakarta 😀

img_0454
my kid, in front of the growing grass at our new house

Iya…memang kredit. Pemikirannya begini:

  • Insya Allah saya berniat baik walau dengan mengambil KPR, ingin membuat keluarga saya nyaman
  • KPR saya rasa adalah pilihan paling aman sementara saya belum bisa mengumpulkan uang yang buanyaaaakkk untuk beli cash..kejar-kejaran sama harga rumahnya…ngerti kan maksud saya?
  • Saya berdoa, rumah saya selalu diberkahi Allah
  • Lillahi ta’ala…Allah pasti tau niat saya…. *tidak menerima argumen ttg masalah prinsipil ya…..di hati aja

Prosesnya Alhamdulillah lumayan cepet ya….waktu itu hanya lihat bentuk rumahnya di suatu web property, saya cek lokasinya lumayan dekat dengan Ibu saya tinggal, walaupun 2 jam perjalanan untuk sampai ke kantor…tapi saya akan lebih tenang dengan perhitungan yang seperti ini, lebih dekat ke Ibu.

Hari Rabu email-emailan dan WA dengan marketingnya, Sabtu janjian survey, langsung sreg, ga mau lihat perumahan lain (di sekitarnya banyak banget perumahan setipe itu).

Hitung-hitung…kalkulasi..antara pemasukan dan pengeluaran lain setelah cicilan yang sudah digambarkan. Seminggu kemudian bayar booking fee dan pilih nomor/lokasi rumah. Seminggu berikutnya kumpulin berkas dan kemudian duduk manis sambil deg-degan di rumah menanti hasil BI Checking.

Yang pasti bikin ga percaya, program kreditnya itu DP 0%, ga percaya? beneran kok. Jadi sepertinya si developer sudah meng-include seluruh harga dan biaya yang telah dan akan ditimbulkan selama proses akad dalam total harga rumah, yang nantinya total tersebut diajukan sebagai pagu kredit pada bank pemberi kredit. Memang, prospek persetujuan bank tergantung kondisi dan history financial setiap orang, ada yang disetujui full 100% (tapi jarang), ada yang 90%, dan seterusnya (istilahnya turun plafon). Kalau saya…entah berapa persen….yang pasti, dari keseluruhan pagu kredit yang diajukan, saya diminta membayar Rp 61,000 aja….hihi…….menyenangkan bukan? 😀

Intinya, kalau mau punya rumah, JALAN, SURVEY….kalau jalan-jalannya di dunia maya aja ya ga bakal dapet jelas informasinya…dan ga akan percaya kalau baca spanduk-spanduk di jalanan yang menuliskan gede-gede promo 0%nya……kaya saya dulu ….. 😀